SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Minggu, 20 05 2018 Mei 2018 >

Diterbitkan :
Kategori : Hadits
Komentar : 0 komentar

Kaum Muslim di seluruh dunia bakal menjalani salah satu rukun Islam yakni berpuasa di bulan Ramadhan. Namun, penentuan 1 Ramadhan membutuhkan perhitungan matang dan akurat.Hal itu disebabkan kalender Islam (Qomariyah) merujuk pada perputaran bulan sedangkan perhitungan kalender masehi, kalender yang digunakan di Indonesia merujuk pada perputaran matahari (Syamsiyah). Sebabnya, penentuan 1 Ramadhan harus didahului dengan memastikan apakah bulan baru telah muncul di ufuk timur atau dalam ajaran Islam disebut (hilal).

Di Indonesia, terdapat dua metode yang dipergunakan dalam penetapan awal puasa ramadhan. Metode pertama dikenal dengan istilah rukyat. Metode ini menggunakan pandangan mata apakah bulan baru telah muncul saat maghbrib atau tidak.Metode kedua dikenal dengan istilah hisab. Metode hisab menentukan 1 Ramadhan dengan perhitungan matematika astronomi. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan mencoba membahas secara global mengenai polemik tersebut.

Rumusan Masalah

  1. Apa Dasar penetapan awal ramadhan dan 1 syawal?
  2. Bagaimana dalil-dalil yang digunakan oleh ahli rukyat dan ahli hisab dalam penentuan awal ramadhan dan 1 syawal?
  3. Bagaimana metode penetapan awal ramadhan?
  4. Bagaimana penetapan 1 syawal dan 1 ramadhan menurut ormas Islam di Indonesia?

TEKS HADITS

Shohh Muslim Juz 5 Halaman 340 No. 1795.[1]

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ.

Terjemah: “Menceritakan kepada kami yahya bin yahya ia berkata: aku membaca didepan Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar RA. Dari Nabi shollaahu Alahi Wasallam. Bahwa Nabi menyebut ramadhan lalu Nabi berkata: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadhan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka kadarkanlah olehmu untuknya”.

 

Takhrijul Hadits

يَحْيَى بْنُ يَحْيَى –   مَالِكٍ   -نَافِعٍ       –   ابْنِ عُمَرَ  –  رَسُولَ اللَّهِ

Biografi Perawi.[2]

  1. Abdullah Bin Umar/ Ibnu Umar

Nama lengkap Abdullah bin Umar bin al-khattab bin Nufayl al-Quraysi al-Adawy, Abu Abdurrahman Makkiy (10 S.H – 73 H ).

Pernyataan Rasulullah, Sahabat, dan para ahli rijal al-hadits tentang Ibnu Umar:

  1. Hafsah (w. 45 H): Rasulullah SAW bersabda “Abdullah adalah seorang yang shalih”.
  2. Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H): diantara pemuda Quraisy yang tekun memelihara diri dari masalah keduniaan adalah Abdullah bin Umar.
  3. Jabir bin Abdullah: Ibnu Umar adalah satu-satunya diantara kami yang tidak terlena dengan kemewahan, sekalipun hal itu sangat memungkinkan bagi dirinya.
  1. Al-Zuhriy (50-124 H): Tidak ada seorang pun yang berpikiran cemerlang melebihi Ibnu Umar. Dia tidak pernah lalai dari perintah Rasulullah SAW dan sahabatnya.

Tidak seorang pun yang mencela Abdullah bin Umar. Melihat.Maka Ibnu Umar adalah sahabat Nabi yang tidak diragukan kejujuran dan keshahihannya dalam menyampaikan hadits Nabi Itu berarti bahwa antara Nabi Muhammad saw dan Abdullah bin Umar telah terjadi persambungan periwayatan hadits.

  1. Nafi’

Nama lengkap Nafi’ al-faqih, dia adalah budak dari ibnu Umar bin al-Khattab al-Quraisyiy al-Adawiy, Abu Abdullah al-Madaniy (w. 177 H).  dan guru dari Malik bin an-Nas.

Tidak ada seorang yang melontarkan celaan terhadap pribadi Nafi’. Dia termasuk periwayat hadits yang disepakati ke tsiqahannya, karena yang bersangkutan adalah seorang tsiqot tanpa syarat, maka pernyataan Nafi’ yang mengatakan bahwa dia menerima hadits tersebut dari Ibnu Umar, jadi tidak diragukan kebenarannya. Dengan demikian, sanad antara Nafi’ dan Ibn Umar bersambung.

  1. Malik

Nama lengkapnya, Malik bin An-Nas bin Malik bin Amir bin Abi Amir bin al-Harits bin Usman bin Khusayl bin Amr bin al-Harits al-Ashabiy al-Himyariy Abu Abd. Allah al-Madaniy (92-179 H).

  1. Yahya bin Yahya.

Kalangan tabi’ul atba’ kalangan tua. Kuniyah: Abu Zakariya. Negeri hidup: Himsh. Wafat 226 H.

Maka kesimpulannya hadits tersebut tsiqoh, karena sanadnya bersambung dan tidak ada perawi nya yang cacat.

 

PEMBAHASAN

Dasar Penetapan Awal Ramadhan dan 1 Syawal

Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila sudah terlihat adanya bulan baru. untuk kepastiannya, dapat dilakukan beberapa cara:

1. Dengan tampaknya bulan di malam tiga puluh Sya’ban. Hal ini memungkinkan apabila cuaca terang dan tidak terdapat mendung yang menghalangi penglihatan. Dalam Hadits, Nabi SAW bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته 

Artinya: “Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits:

إذا رأيتم الهلال فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا

Artinya: ” Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) , maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal ), maka berbukalah.” (HR Muslim).

Jika bulan dapat terlihat maka kita wajib berpuasa esok harinya. Jika bulan tidak terlihat ketika cuaca yang terang maka kita tidak boleh berpuasa esok harinya, namun jika bulan tidak terlihat karena udara mendung maka kita harus memulai puasa esok harinya. Hal ini sesuai dengan madzhab ibn umar berdasarkan hadits Nabi SAW:

إنّماالشّهرتسع وعشرون فلا تصوموا حتّى تروه ولاتفطروا حتّى تروه فإن غمّ عليكم فاقدرواله

Artinya:“Sesungguhnya bulan itu 29 hari. Maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka, sehingga kamu melihatnya. Tapi jika mendung, kadarkanlah olehmu untuknya.”

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan “maka kadarkanlah untuknya”. Menurut pendapat ahli bahasa, maknanya: maka takdirkanlah dia.  Jumhur ulama dari golongan Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah berpendapat bahwa maknanya sempurnakanlah 30 hari. Segolongan ulama berpendapat maknanya: pandanglah dia, sudah ada di bawah awan. Segolongan yang lain berpendapat: pergunakanlah hisab. Jumhur ulama mamaknakan “maka kadarkanlah untuknya” dengan “sempurnakanlah”, mengingat bahwa hadits harus ditafsirkan dengan hadits. Ungkapan “maka kadarkanlah untuknya” ditafsirkan oleh perkataan “maka sempurnakanlah 30 hari”.

  1. Dengan menggenapkan (ikmal) bulan Sya’ban tiga puluh hari.[3]

Dengan mencukupkan bulan Sya’ban tiga puluh hari, maksudnya bulan tanggal Sya’ban itu dilihat. Tetapi kalau bulan tanggal satu Sya’ban tidak terlihat, tentu kita tidak dapat menentukan hitungan, sempurnanya tiga puluh hari.[4]

صوموالرؤيته وافطروالرؤيته فان غمّ عليكم فاكملوا عدّة شعبان ثلاثين (رواه البخاري)

Artinya : “Berpuasalah kamu setelah melihat bulan( di bulan Ramadhan), dan berbukalah kamu sewaktu melihat bulan (di bulan Syawal). Maka jika ada yang mengahalangi (mendung) sehingga bulan tidak kelihataan, hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari. (HR.Bukhari).

 

Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Hisab Dan Ahli Rukyat Dalam Menetapkan Awal Ramadhan Dan Syawal

Golongan yang menggunakan rukyat berpendapat bahwa awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan atas dasar hasil rukyat bil fi’li (melihat hilal dengan mata kepala), sementara golongan yang menggunakan hisab berpendapat bahwa hisablah yang harus digunakan dalam menetapkan awal dan akhir ramadhan. Masing – masing berpijak pada dalil-dalil syar’i berdasarkan atas interpretasi mereka.

  1. Dalil yang digunakan Oleh Ahli Hisab

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”(QS. Yunus : 5)

يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج

Artinya:“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji” (QS. al-Baqarah: 189).

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam. Secara explisit dua ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنّا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا يعنى مرة تسعة وعشرون ومرة ثلاثون

Artinya:“Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari)”  (HR. Al Bukhari).

Dari hadits diatas dapat kita pahami bahwa Rasulallah dan para sahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang-orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu gengan melihat bulan. Namun saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dan maju, untuk mengetahui waktu-waktu dan fenomena luar angkasa baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi dapat diperkirakan secara tepat dan mudah, sehingga dengan didukung peralatan yang canggih, hisablah yang paling akurat untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan. Jika upaya pengamatan hilal saat itu dilakukan dengan upaya terbaik yg tersedia pada masa itu, maka sewajarnyalah hal yang sama (upaya terbaik) juga dilakukan oleh kita-kita  pada masa sekarang.

Dan fasilitas yg tersedia pada masa sekarang adalah teknologi satelit dan telekomunikasi. Dengan kesemua teknologi yang ada saat ini, maka akan dapat diketahui dengan cukup akurat kapan terjadinya bumi, bulan dan matahari dalam posisi segaris (dan dapat diramalkan untuk tahun-tahun  mendatang), sehingga bagi daerah yg mengalami matahari terbenam setelah waktu tersebut, dapat dikatakan telah memasuki bulan baru, walaupun hilal belum dapat terlihat dengan mata telanjang disebabkan silaunya temaram senja dan berbagai efek pembiasan cahayanya.

عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له

Artinya:“Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulallah Saw bersabda “sesungguhnya sebulan itu lamanya 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sehingga melihat hilal, dan janganlah kalian berlebaran sehingga melihat hilal, maka apabila hilal tertutup oleh awan sehingga kalian tidak dapat melihatnya, maka perkirakanlah untuknya.”(HR. Muslim)

Lafazhفاقدروا له   pada hadits di atas memiliki arti maka kira-kirakanlah dengan ilmu hisab atau hisablah dengan hisabul manzilah (hitunglah dengan perjalanan bulan), dengan demikian maksud hadits di atas memberi pengertian bahwa selain dengan rukyat, awal dan akhir Ramadhan dapat ditetapkan dengan dan perkiraan ilmu hisab yakni dengan menghitung peredaran bulan.

  1. Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Rukyat

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيتة فإن غبي عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين

Artinya:“Rasulallah Saw bersabda “Berpuasalah dengan melihat hilal dan  berbuka (berhari raya) lah dengan melihatnya pula. Jika (hilal) terhalang (awan) hingga kalian tidak dapat melihatnya, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. al-Bukhari)

Dengan demikian, bahwa awal atau akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan hasil rukyat bil fi’li atau dengan cara istikmal bila hilal tidak dapat dilihat oleh mata kepala, karena syara’ hanya mengajukan dua cara tersebut. Dan penetapan awal atau akhir Ramadhan dengan hisab tidak pernah dilakukan oleh Rasulallah dan para shahabatnya, padahal sebelum Rasullah lahir, di Negeri Arab telah berkembang dan telah terdapat tempat yang dipakai untuk mengajar ilmu hisab. Bahkan menurut fakta sejarah pada tahun 500 SM Phitagoras telah membangun suatu pendidikan khusus dalam ilmu hisab, dan 200 tahun  kemudian Bathlimus juga mengembangkan ilmu hisab di lembaga pendidikannya Al-Iskandariyah.

Adapun surat Yunus ayat 5 yang dijadikan dalil oleh ahli hisab tidaklah tepat untuk menghapus sistem rukyat dengan sistem hisab, karena ayat di atas tidak ada sangkut pautnya dengan hal memulai dan mengakhiri puasa. Begitu juga dengan surat al- Baqarah ayat 189 bila kita lihat asbabun nuzul ayat ini yang diriwayatkan oleh al-Aufi dari Ibnu Abbas adalah bahwa orang-orang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai bulan sabit, maka turunlah ayat ini. Dimana dengan bulan sabit itu mereka mengetahui waktu puasa dan berbuka, waktu jatuh tempo hutang mereka dan iddah istri mereka, serta waktu menunaikan haji. Namun hadits diatas tidak membicarakan sistem hisab yang harus digunakan untuk mengetahui hilal.[5]

 

Metode Penetapan Awal Bulan Ramadhan

Dalam penentuan awal bulan Ramadhan, 1 Syawal terdapat dua metode yaitu Rukyat dan Hisab.

  • Itsbat Rukyah

Artinya menetapkan bahwa bulan sabit sudah kelihatan. Sebagai konsekuensinya, maka semua wajib memulai puasa Ramadhan atau berlebaran. Itsbat rukyah itu harus dengan kesaksian seorang saksi yang adail (jujur dan tidak fasik). Saksi itu boleh laki-laki atau perempuan. Menurut mahdzab rukyah, rukyah hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang/tanpa alat).

Ru’yah dari sesorang penduduk suatu negeri mewajibkan puasa bagi semua penduduk negerinya dan juga bagi negeri-negeri tetangganya. Hal ni merupaan pendapat dari Al-lais dan sebagian pengikut As-Syafi’i. dalam masalah ikhtilafu mathla’ ada dua pendapat, yaitu:

  1. Pendapat jumhur ulama’

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa perbedaan mathla’ itu tidak menjadi perhatian. Apabila suatu negeri telah melihat bulan, maka wajiblah puasa atas semua negeri. Hal ini didasarkan dari hadits nabi:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

Artinya:

“Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Pendapat sebagian kecil ulama’

Mereka berpegah teguh pada hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan At-Turmudzi dari Kuraib yang artinya : “saya datang ke Syam dan masuklah bulan Ramadhan, ketika saya berada disana maka saya melihat hilal pada malam jum’at. Diakhir bulan saya kembali ke Madinah. Maka ibnu Abbas bertanya kepada saya “kapan kamu melihat hilal?” Aku berkata: “kami melihatnya pada malam jum’at.”Ibnu Abbas berkata : “apakah kamu sendri ang melihatnya?”aku menjwab:”benar dan orang lain melihatnya, karenanya Muawiyah dan  orang disana berpuasa” kata Ibnu Abbas: “akan tetapi kami melihatnya malam sabtu, karenanya kami akan terus berpuasa hingga cukup 30 atau kami melihat bulan sendiri.” Aku berkata “tidaklah anda mencukupi dengan ru’yah muawyah dan puasanya?” ibnu Abbas menjawab: ”tidak,” demikianlah kami diperintahkan Rosullullah SAW ”.

Hadits ini menetapkan, bahwa apabila telah pasti ru’yatul hilal disuatu Negara, wajiblah puasa dinegara itu dan Negara yang dekat dengannya yang segaris lurus tidak Negara-negara yang lain.[6]

Ru’yah umumnya dilkukan di tepi pantai atau di atas dataran tinggi (seperti gunung atau bukit), karena kedua tempat tersebut merupakan lokasi bebas halangan untuk melihat hilal di ufuk bagian barat.

  • Hisab

Mahdzab hisab, penentuan awal dan akhir bulan Qomariyah didasarkan perhitungan falak. Menurutnya, istilah rukyah yang terdapat dalam hadits-hadits hisab rukyah dinilai bersifat ta’aqquli-ma’qul al ma’na, dapat dirasionalkan, diperluas dan dikembangkan. Sehingga dapat diartikan mengetahui sekalipun bersifat dzanni(dugaan kuat) tentang adanya hilal.

Dalam Khazanah ilmu hisab dikenal beberapa metode untuk menentukan ijtima’ (konjungsi) dan posisi hilal dan awal Ramadhan. Beberapa metode tersebut yakni:

  1. Metode hisab haqiqi taqribi. Kelompok ini mempergunakan data bulan dan matahari berdasarkan data dan table ulugh bek dengan proses perhitungan yang sederhana. Hisab ini dilakukan hanya dengan cara penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, tanpa mempergunakan ilmu ukur segitiga bola (spherical trigonometri)
  2. Metode hisab haqiqi tahqiqi. Metode ini diambil dari kitab almathla’ al-Said Rushd al-Jadid yang berakar dari system astronomi serta matematika modern yang asal muasalnya dari system hisab astronom muslim. System ini mempergunakan table-tabel yang sudah dikoreksi dan perhitungan yang relative lebih rumit daripada kelompok hisab haqiqi taqribi serta memakai ilmu ukur segitiga bola.
  3. Metode hisab haqiqi kontemporer. Metode ini menggunakan hasil penelitian terakhir dan menggunakan metematika yang telah dikembangkan. Metodenya sama dengan metode hisab haqiqi tahqiqi hanya saja system koreksinya lebih teliti dan kompleks sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi.[7]

 

Penetapan 1 Syawal Dan 1 Ramadhan Menurut Ormas Islam Di Indonesia

  1. Muhammadiyah[8]

Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan menggunakan sistem hisab hakiki wujudul hilalartinya memperhitungkan adanya hilal pada saat matahari terbenam dan dengan dasar Al-Qur’an Surah Yunus ayat 5 di atas dan Hadis Nabi tentang ru’yah riwayat Bukhari. Memahami hadis tersebut secara taabudi atau gairu ma’qul ma’na/tidak dapat dirasionalkan, tidak dapat diperluas dan dikembangkan sehingga ru’yah hanya dengan mata telanjang tidak boleh pakai kacamata dan teropong dan alat-alat lainnya, hal ini terasa kaku dan sulit direalisasikan. Apalagi daerah tropis yang selalu berawan ketika sore menjelang magrib, jangankan bulan, matahari pun tidak kelihatan sehingga ru’yah mengalami gagal total.

Hadis tersebut kalau diartikan dengan Ta’qul ma’na artinya dapat dirasionalkan maka ru’yah dapat diperluas, dikembangkan melihat bulan tidak terbatas hanya dengan mata telanjang tetapi termasuk semua sarana alat ilmu pengetahuan, astronomi, hisab dan sebagainya. Sebaliknva dengan memahami bahwa hadis ru’yah itu ta’aquli ma’na maka hadis tersebut akan terjaga dan terjamin relevansinya sampai hari ini, bahkan sampai akhir zaman nanti. Dan muhammadiyah tidak melanggar  ketentuan pemerintah dalam soal ketaatan beragama sebab pemerintah membuat pengumuman bahwa hari raya tanggal sekian dan bagi umat Islam yang merayakan hari raya berbeda berdasarkan keyakinannya, makadipersilahkan dengan sama-sama menghormatinya.

  1. Nahdhatul Ulama (NU)[9]

Dalam menentukan awal bulan Qamariyah yang ada hubungannya dengan ibadah, Nahdhatul Ulama berpegang pada beberapa hadits yang berhubungan dengan rukyat. Di samping hadits, Nahdhatul Ulama juga berpegang pada pendapat para ulama yaitu para Imam Mazhab selain Hambali, dimana imam mazhab tersebut menyebutkan bahwa awal Ramadhan dan Syawwal ditetapkan berdasarkan ru’yah al-hilal dan dengan istikmal. Penetapan ini diambil berdasarkan alasan-alasan syar’i yang dipandang kuat untuk dijadikan pedoman peribadatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk melacak metode yang digunakan Nahdlatul Ulama dalam menentukan awal bulan Qamariyah, maka ada tiga fatwa yang berkaitan dengan metode rukyat yang digunakan organisasi ini. Fatwa pertama, tahun 1954 sebagaimana dikutip Hooker berisi dua pernyataan yaitu menentukan waktu berdasarkan hisab tidak digunakan pada masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin dan tidak dibolehkan membuat pernyataan publik untuk menentukan awal puasa berdasarkan hisab tanpa adanya pengumuman dari Menteri Agama. Hal ini dilakukan “untuk mencegah keributan di kalangan umat Islam. Fatwa kedua, tahun 1983, isinya juga berisi tidak ada kewajiban untuk menerima penentuan puasa dengan cara hisab.

Adapun fatwa ketiga, yang dibuat pada tahun 1987 isinya lebih terperinci dan merujuk pada hasil fatwa tahun 1983. Berikut adalah ringkasan dari fatwa tersebut sebagaimana diringkas oleh Hooker “Melihat bulan (ru’yah) sebagai dasar untuk menetapkan tanggal puasa telah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan Khulafa al-Rasyidin dan dilakukan oleh empat mazhab. Sementara itu penghitungan berdasarkan ilmu falak tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan kesahihannya ditentang para ulama. Pernyataan publik tentang penanggalan puasa berdasarkan penghitungan ilmu falak oleh hakim atau gubernur tidak ditegaskan oleh keempat mazhab”.

NU adalah organisasi yang mengikuti jalan dan ajaran Nabi, para sahbat dan ulama. Musyawarah Nasional Alim Ulama (18-21 Desember 1983) telah membuat sebuah keputusan untuk mengikuti metode melihat bulan guna menetapkan awal Ramadhan dan Idul Fitri yang disahkan oleh Muktamar NU ke 27 (1984). NU telah lama mengikuti pendapat para ulama bahwa satu penanggalan yang pasti harus ditetapkan untuk Indonesia dengan mengabaikan perbedaan aspek bulan di seluruh negeri. Melaksanakan ru’yah merupakan kewajiban agama dalam pandangan empat imam mazhab kecuali Hanbali yang mengangapnya bermanfaat saja.

Dari ketiga isi fatwa tersebut dapat disimpulkan bahwa penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah didasarkan pada ru’yatul hilal dan istikmal. Meskipun hisab tidak pernah dipraktekkan pada pada masa Nabi Muhammad Saw dan Khulafaur-Rasyidin, tetapi hisab yang dilakukan para ahlinya boleh diikuti bagi yang mempercayai perhitungannya.

Rukyah yang dijadikan dasar adalah hasil rukyah di Indonesia dan berlaku seluruh Indonesia (wilayatul hukmi), sehingga jika di salah satu bagian dari wilayah Indonesia dapat disaksikan hilal, maka ulul amr dapat menetapkan awal bulan berdasarkan rukyah yang berlaku seluruh Indonesia. Penetapan yang dilakukan pemerintah dengan tidak memakai rukyah, maka yang dipakai adalah rukyat yang dilakukan masyarakat, khususnya warga NU.

  1. Menurut Pemerintah[10]

Di Indonesia penetapan awal bulan Qamariyah secara resmi dilakukan oleh Menteri Agama dalam sidang Itsbat yang dihadiri berbagai utusan Ormas Islam. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk penetapan awal bulan Qamariyah selain Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab. Sedangkan untuk awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab-rukyat.

Peran hasil hisab sangat besar pengaruhnya terhadap laporan rukyat. Jika semua sistem hisab sepakat hilal masih di bawah ufuk, maka selalu hilal dilaporkan tidak terlihat, dan begitu juga sebaliknya jika semua sistem hisab sepakat menyatakan hilal sudah di atas ufuk, maka hampir selalu hilal dilaporkan terlihat. Adapun jika ahli hisab tidak sepakat, sebagian menyatakan hilal di atas ufuk, sebagian lainnya menyatakan hilal di bawah ufuk, maka seringkali hilal dilaporkan terlihat. Proses penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dimulai dengan data yang ada pada Badan Hisab Rukyat baik di Pusat maupun di Daerah, kemudian Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia melaksanakan rukyat dengan mengundang unsur-unsur dari ulama, ormas Islam, Perguruan Tinggi, Badan Metreologi dan Geofisika (BMG), Instansi terkait, dan para ahli.

Hasil rukyat tersebut kemudian dilaporkan kepada Menteri Agama untuk selanjutnya dibawa dan dibahas dalam sidang Itsbat yang dihadiri berbagai unsur ormas Islam. Pada sidang Itsbat itu diputuskan hasil penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah yang selanjutnya Menteri Agama mengumumkan secara terbuka kepada seluruh masyarakat Muslim Indonesia.

Kriteria imkanur ru’yat yang dipakai oleh pemerintah adalah kriteria yang disepakati bersama MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu :

  1. Tinggi bulan minimum 2 derajat,
  2. Jarak bulan-matahari minimum 3 derajat, dan
  3. Umur bulan saat maghrib minimum 8 jam.

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Dasar Penetapan Awal Ramadhan dan 1 Syawal
  2. Dengan tampaknya bulan di malam tiga puluh Sya’ban.
  3. Dengan menggenapkan (ikmal) bulan Sya’ban tiga puluh hari
  4. Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Hisab Dan Ahli Rukyat Dalam Menetapkan Awal Ramadhan Dan Syawal
  5. Dalil yang digunakan Oleh Ahli Hisab yaitu QS. Yunus: 85, QS. Al-Baqarah: 189, dan HR. Al-Bukhori
  6. Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Rukyat yaitu HR. Al-Bukhori
  7. Metode Penetapan Awal Bulan Ramadhan
  8. Itsbat Rukyah
  9. Hisab
  10. Penetapan 1 Syawal Dan 1 Ramadhan Menurut Ormas Islam Di Indonesia
  11. Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan menggunakan sistem hisab hakiki wujudul hilal.
  12. Nahdhatul Ulama menentukan awal Ramadhan dan Syawwal ditetapkan berdasarkan ru’yah al-hilal dan dengan istikmal.
  13. Pemerintah untuk awal Ramadhan, Syawal dilakukan berdasarkan metode hisab-rukyat.

Penutup

Demikian makalah ini kami buat,  kami sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini pasti masih ada banyak kekurangan. Oleh karenanya untuk kesempurnaan makalah ini, kami selaku pemakalah mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Akhirnya semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amhar, Hisab dan Rukyat, Wacana untuk Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007).

Shohih muslim. Dikutip dari maktabah syamilah.

Sulaiman Rasjid. Fiqh Islam Cetakan ke 50 (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2011).

Susiknan Azhari, Hisab & Rukyat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007).

Yogyakarta

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Puasa, (Semarang: PT. Pustaka Rizqi Putra, 2000).

Zainal Abidin Syihab.Tuntunan Puasa Praktis. (Jakarta : Bumi Aksara, 1995).

[1]Shohih muslim. Dikutip dari maktabah syamilah

[2]http://hadits.stiba.ac.id

[3]Zainal Abidin Syihab, Tuntunan Puasa Praktis, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hlm. 23.

[4]Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2011), hlm. 221.

[5] http://nurkhasanahfauziah.blogspot.co.id/2014/06/makalah-penentuan-awal-bulan-ramadhan.html

[6]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Puasa, (Semarang: PT. Pustaka Rizqi Putra, 2000), hlm.63.

[7]Susiknan Azhari, Hisab & Rukyat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 66-67.

[8] Azhari, Susiknan. Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007).

[9] Salam, Abd. Tradisi Fiqh Nahdlatul Ulama (NU): Analisis terhadap Konstruksi Elite NU Jawa Timur tentang Penentuan Awal Bulan Islam, (Surabaya: Ringkasan Disertasi IAIN Sunan Ampel, 2008).

[10] Amhar, Hisab dan Rukyat, Wacana untuk Membangun Kebersamaan di Tengah Perbedaan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007).

Kontributor: Diah Susanti/BLK59

SebelumnyaHadis tentang Bacaan Fatihah Sholat - Analisa Hadis - Santri Pondok SesudahnyaDzikir Kebangsaan dengan Tema "Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan" - HUT RI ke 72
Banser Haram Jaga Gereja : BM PP MUS Sarang
.:: HASIL KEPUTUSAN MUSYAWAROH KUBRO KE-51 PP. MUS TENTANG BANSER JAGA Kita mungkin sudah sering mendengar kabar, atau bahkan pernah melihat adanya banser menjaga sejumlah gereja di tanah air. Salah...
200 Nama-nama Dai Penceramah Muballigh yang diakui Kementerian Agama RI
Kementerian Agama (Kemenag) merilis nama-nama penceramah yang telah dinyatakan layak menyampaikan materi keagamaan kepada publik. Dalam tahap awal ini sudah ada 200 nama yang diunggah di website resme Kemenag. Menteri...
Muhasabah: Sajak Rindu Untuk Sang Penciptaku
MUHASABAH: SAJAK RINDU UNTUK SANG PENCIPTAKU   (Muhasabah untuk kita, yang pernah dekat dengan Tuhan…namun sekarang jauh, karna kesibukan dan urusan duniawi)   Pernah terbesit rasa hati ini ingin melangkah...
Kajian Lengkap Nisfu Sya’ban
*NISYFU SYA’BAN* _By: Mohammad Bahauddin_ Seperti yang telah kita ketahui bulan sya’ban terdapat banyak sekali cabang kebaikan yang diambil dari arti namanya dari kata asysya’b, maka sangat disayangkan jika kita...
Kitab Al Mauhabah Al Ladunniyyah Syarakh Ar Rohabiyah – Ilmu Waris
Sahabat Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ilmu Waris adalah ilmu yang hilang pertama kali di dunia ini.” Permasalahan warisan adalah hal yang sering kali membuat putus tali persaudaraan. Rebutan warisan,...
10 Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti – nanti. bagi orang – orang mukmin, kepergian bulan Ramadhan jauh lebih disesalkan daripada kepulangan seorang tamu mulia yang berlalu pergi. Tak heran...


TINGGALKAN KOMENTAR

%d blogger menyukai ini: