SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Minggu, 20 05 2018 Mei 2018 >

Diterbitkan :
Kategori : Tafsir
Komentar : 0 komentar

Menundukkan pandangan atau memelihara pandangan merupakan akhlak seseorang mukmin yang sejati. Laki-laki dan perempuan diberi hawa nafsu atau syahwat supaya mereka tidak punah dan musnah dari muka bumi ini. Laki-laki memerlukan perempuan dan perempuan memerlukan laki-laki. Tetapi manusia diberi akal dan akal sendiri menghendaki hubungan-hubungan yang teratur dan bersih. Syahwat merupakan keperluan hidup, tetapi jika syahwat tidak terkendali maka brobok akhlak akan menimbulkan kotoran yang amat sukar diselesaikan.

Maka dari itu kepada laki-laki yang beriman, diperingatkan agar menjaga penglihatannya jika melihat wanita cantik, atau memandang bentuk badannya yang memancing hawa nafsu.sekali memuaskan kehendak syahwat adalah permulaan dari penyakit tidak akan puas selama-lamanya sampai hancur pribadi dan hilang kendali atas diri sehingga menjadi orang yang kotor. Namun orang yang beriman tidaklah menuruti hawa dan nafsu. Mereka masih memelihara kemaluan atau kehormatan diri. Karena itu adalah amanat Allah yang disadari oleh manusia yang berakal apa gunanya. Menahan penglihatan mata itu adalah menjamin kebersihan dan ketentraman jiwa.

Ayat terkait tentang menjaga pandangan dan kehormatan

Firman Allah Q.S An-Nur ayat 30-31[1]

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضّوا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَضُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَرِهِنّ وَيَخْفَظْنَ فٌرٌوْجَهُنّ وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنّ إلا مَا ظهَرَ مِنْهَا وَلْيَظْرِبْنَ بِخُمُرِهِنّ عَلَى جُيُوْبِهِنّ ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنّ إلا لِبُعُوْلَتِهِنّ أَو ءَابَائِهِنّ أوءَابَاءِ بُعُوْلَتِهِنّ أو اَبْنَاءِ بٌعُولَتِهِنّ أو إخْوَاتِهِنّ أوْ بَنِي إخْوَانِهِنّ أو بَنِي إخْوَانِهِنّ أو بَنِي أخَوَاتِهِنّ أو نِسَائِهِنّ أو مَا مَلَكَتْ أيْمَانُهُن أوِ التّابِعِيْنَ غَيْرِ أوْلى الارْبَةِ مِنَ الرِجَالِ أوِ الطُفْلَ الذِيْنَ لَمْ يَظهَرُوا عَلَى عَوْراتِ النِسَاءِ وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَ رْجُلِهِنّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنِ مِنْ زِيْنَتِهِنّ وَتُوْبُوا إِلَى الله جَمِيْعاً أيّهَا المُعْمِنِيْنَ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya : “ katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman : hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka(30).  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. : katakanlah kepada wanita yang beriman : hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali (biasa) Nampak darinya.

Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka , atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S an-Nur:30&31)

 Asbabun Nuzul

Ayat ini diturunkan dimadinah yang merupakan ayat dari surat an-nur  yaitu surat yang keseratus , termasuk golongan madaniyah. Diriwayatkan oleh ibnu katsir dari muqatil bin hayyan dari jabir bin abdillah al anshary berkata bahwa asma binti murtsid, pemilik kebun kurma , sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main dikebunnya tanpa pakaian panjang sehigga kelihatan gelang-gelang kakinya. Demikian dada dan sanggul mereka kelihatan, maka Asma berkata :”  alangkah buruknya pemandangan ini.” Maka turunlah ayat ini yang berkenaan dengan perintah bagi kaum mukminat untuk menutup aurat mereka.

Hal yang serupa  juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Jabir dari Ali Karamallahuwajhah berkata, bahwa : pada masa Rasulullah  ada seorang laki-laki berjalan di Madinah, dia melihat seorang wanita dan wanita itupun melihatnya , maka setan menggoda keduanya, mereka sama-sama kagum, lalu ketika lelaki itu berjalan kearah tembok ia tidak melihatnya sehingga ia terbentur tembok tersebut dan hidungnya berdarah , sebab ia hanya sibuk oleh wanita itu. Maka ia berkata  bahwa dia tidak akan mengusap darah itu sehingga ia bertemu Rasulullah  dan menceritakan perihal keadaannya. maka ketika bertemu Rasulullah beliau berkata kepadanya “ini adalah akibat dari dosamu”  kemudian turunlah ayat ini.

Penafsiran

An-Nur ayat 30

Ibnu Daqiq Al-Id berpendapat bahwa lafadz “ min “ dalam ayat tersebut menunjukkan tabh’it  atau sebagian.” Tidak ada pertikaian bahwa perempuan ketika khawatir akan terjadi fitnah, haram baginya melihat. Ini satu kondisi. Akan tetapi ayat tersebut tidak  mewajibkan menahan pandangan secara mutlak, atau pada kondisi lain yang berbeda dari yang baru disebutkan, “ demikian tulis Ibnu Iyadh berkata “ menahan pandangan wajib hukumnya dalam semua kondisi yang menyangkut aurat dan yang sejenis. Tetapi, kadang-kadang wajib untuk suatu kondisi dan kondisi yang lain.[2]

An-Nur ayat 31

Ibnu Arabi berkata dalam tafsirannya bahwa didalamnya ada delapan permasalahan[3]:

Pertama; firman-Nya yang berbunyi “ katakanlah pada laki-laki beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Ini sebuah firman yang sifatnya umum, mencakup laki-laki dan perempuan dari kaum mukmin, selaras dengan seruan yang sifatnya umum didalam Al-Quran . hanya saja Al-Quran mengkhususkan seruan kepada wanita , dengan bentuk penekanan tambahan. Tatkala Allah menginginkan agar kaum mukminin merendahkan (menundukkan) pandangan dan menjaga kemaluannya (kehormatan), maka dia menekankan dengan cara mengulangi, dan secara khusus menyebutkan tentang wanita terpisah dari laki-laki.

Kedua; “ katakanlah pada laki-laki beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Perbuatan tidak menahan pandangan adalah haram, sebab melihat pada sesuatu yang tidak dihalalkan secara syara’ disebut zina. Sebagaimana tidak dihalalkan bagi seorang laki-laki untuk melihat kepada perempuan lain maka demikian pula tidak dihalalkan bagi seorang wanita melihat pada laki-laki lain. Sebab hubungan antara laki-laki dan perempuan itu sama dengan hubungan perempuan dengan laki-laki. Dan hasratnya padanya sama dengan hasrat perempuan pada laki-laki.

Ketiga; Firman Allah “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa Nampak dari padanya.”

Perhiasan itu dibagi menjadi dua yaitu: perhiasan alami dan perhiasan dari hasil usaha.[4]

  1. Perhiasan yang alami itu adalah wajahnya. Karena sesungguhnya dia adalah pokok segala perhiasan dan keindahan penciptaan dan memiliki makna hidup. Karena didalamnya ada sejumlah manfaat dan merupakan jalur pengetahuan dan indahnya tertibnya susunan yang ada, semua terdapat dikepala dan diciptakan terpisah dengan yang lain, dengan susunan yang indah.
  2. Sedangkan perhiasan yang berupa hasil usaha adalah segala sesuatu yang diusahakan oleh seorang perempuan untuk menjadikan dirinya cantik dengan cara buatan. Seperti pakaian, perhiasan, celak mata, dan lainnya.

Keempat; Firman-Nya,”kecuali yang biasa Nampak dari padanya.” Ketahuiah wahai saudaraku  hakikat-hakikat yang ada disini, bahwa sesuatu yang zhahir dari lafazh yang mengandung kebalikannya maka disana ada lawannya. Jika ada zhahir pastilah ada batin, sebagaimana jika ada awal pastilah ada akhir, dan jika ada kuno pastilah ada baru. Maka tatkala perhiasan itu disifati bahwa dia adalah zhahir, maka ini menunjukkan disana ada batin.

Kelima; Firman-Nya.” Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya.”

Imam Al-Bukhori meriwayatkan dari Aisyah; bahwa sesungguhnya dia berkata ,” Allah member rahmat pada wanita-wanita muhajirat generasi. Pertama, tatkala turun firman Allah; ”dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya.” Ini seakan menggambarkan bahwa mereka yang punya kain menyobek kainnya dan yang memiliki sarung menyobek sarungnya. Ini menunjukkan akan wajibnya menutup leher dan dadanya.[5]

Keenam; Firman Allah,”Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka.”Allah mengharamkan untuk menampakkan perhiasan, secara mutlak sebagaimana disebutkan hanya saja ada pengecualian yaitu[6] :

  1. Ba’al artinya suami atau sayyid (tuan) dalam ungkapan orang Arab.
  2. Ayah-ayah mereka
  3. Ayah-ayah suami mereka
  4. Anak-anak
  5. Anak-anak suami
  6. Saudara-saudara
  7. Anak-anak saudara laki-laki (keponakan)
  8. Anak-anak saudara perempuan
  9. Wanita-wanita mereka, ada dua pendapat pertama; maksudnya semua wanita, kedua; wanita-wanita mukminah saja.
  10. Budak-budak yang mereka miliki.
  11. Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)
  12. Anak-anak yang tidak mengerti aurat wanita.

Manfaat menjaga pandangan dan kehormatan.

  1. Menjadikan hati lebih tenang
  2. Mewariskan hati kegembiraan dan kelapangan.
  3. Memerangi hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan
  4. Menjadi benteng penghalang kemaksiatan
  5. Menyucikan hati dari hawa nafsu dan kelalaian dari pada mengingat Alllah dan hari Akhir.

Kesimpulan

            Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Oleh karena itu barang siapa yang menundukkan pandangan dari yang haram , maka Allah akan menyinari mata hatinya, dan lagi karena seseorang hamba apabila menjaga kemaluan (kehormatan) dan pandangannya dari yang haram serta pengantarnya meskipun ada dorongan syahwat kepadanya, maka ia tentu dapat menjaga yang lain.

Selanjutnya, Allah SWT mengingatkan kepada mereka pengetahuan-Nya terhadap amal mereka agar mereka berusaha menjaga diri mereka dari hal-hal yang diharamkan. Oleh karena itu dia akan memberi balasan terhadapnya.. setelah Allah memerintahkan kaum mukmin menjaga pandangan dan kehormatan , maka dia memerintahkan kaum mukminin menjaga pula dan kehormatan  dari haram dilihat  seperti memandang laki-laki  dengan syahwat dan sebaliknya.

Daftar Pustaka

 Washfi Muhammad. Mencapai Keluarga Barokah.2005. Yogyakarta : pustaka pelajar offset.

Takariawan Cahyadi. Fiqih Politik Perempuan. 2003. Solo : era intermedia

Syaikh imad zaki al-barudi. Tafsir Wanita. 2003. Jakarta : pustaka Al-kautsar

Footnote: 

[1] Washfi Muhammad. Mencapai Keluarga Barokah.2005. Yogyakarta : pustaka pelajar offset.hal.216-218

[2] Takariawan Cahyadi. Fiqih Politik Perempuan. 2003. Solo : era intermedia. Hal.173.

[3] Syaikh imad zaki al-barudi. Tafsir Wanita. 2003. Jakarta : pustaka Al-Akutsar. Hal.414

[4] Ibid. hal 416

[5] Ibid.hal.418

[6] Ibid.hal.419

Kontributor: Cholidatum Musa’adah

SebelumnyaHadis Kewajiban Suami dan Istri - Analisa Hadis Sesudahnya[Fakta] Inilah Cara Orang Arab Saudi Memperlakukan Orang Indonesia
Banser Haram Jaga Gereja : BM PP MUS Sarang
.:: HASIL KEPUTUSAN MUSYAWAROH KUBRO KE-51 PP. MUS TENTANG BANSER JAGA Kita mungkin sudah sering mendengar kabar, atau bahkan pernah melihat adanya banser menjaga sejumlah gereja di tanah air. Salah...
200 Nama-nama Dai Penceramah Muballigh yang diakui Kementerian Agama RI
Kementerian Agama (Kemenag) merilis nama-nama penceramah yang telah dinyatakan layak menyampaikan materi keagamaan kepada publik. Dalam tahap awal ini sudah ada 200 nama yang diunggah di website resme Kemenag. Menteri...
Muhasabah: Sajak Rindu Untuk Sang Penciptaku
MUHASABAH: SAJAK RINDU UNTUK SANG PENCIPTAKU   (Muhasabah untuk kita, yang pernah dekat dengan Tuhan…namun sekarang jauh, karna kesibukan dan urusan duniawi)   Pernah terbesit rasa hati ini ingin melangkah...
Kajian Lengkap Nisfu Sya’ban
*NISYFU SYA’BAN* _By: Mohammad Bahauddin_ Seperti yang telah kita ketahui bulan sya’ban terdapat banyak sekali cabang kebaikan yang diambil dari arti namanya dari kata asysya’b, maka sangat disayangkan jika kita...
Kitab Al Mauhabah Al Ladunniyyah Syarakh Ar Rohabiyah – Ilmu Waris
Sahabat Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ilmu Waris adalah ilmu yang hilang pertama kali di dunia ini.” Permasalahan warisan adalah hal yang sering kali membuat putus tali persaudaraan. Rebutan warisan,...
10 Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti – nanti. bagi orang – orang mukmin, kepergian bulan Ramadhan jauh lebih disesalkan daripada kepulangan seorang tamu mulia yang berlalu pergi. Tak heran...


TINGGALKAN KOMENTAR

%d blogger menyukai ini: