SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Minggu, 20 05 2018 Mei 2018 >

Diterbitkan :
Kategori : Biografi Ulama / Ulama Indonesia
Komentar : 0 komentar

Biografi yang akan anda baca adalah perjalanan hidup seorang ulama kharismatik, alim, dan banyak karamah yaitu KH. Kholil Bangkalan Madura atau dikenal dengan sebutan Mbah Kholil, Kiai Kholil Dan Syaikhona Kholil.

Kelahiran Mbah Kholil

Kiai Kholil lahir pada Hari Selasa tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M. Ayah beliau adalah Abdul Lathif seorang Kyai di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, ujung Barat Pulau Madura, Jawa Timur

Kiai Abdul Lathif sangat gembira dan berharap agar anaknya, Muhammad Kholil, kelak menjadi pemimpin umat, sebagaimana leluhurnya.

Seusai mengadzani telinga kanan dan mengiqamati telinga kiri sang bayi, KH. Abdul Lathif memohon agar Allah mengabulkan permohonannya.

Silsilah Nasab Mbah Kholil

Silsilah Nasab Mbah Kholil sampai kepada Walisongo, Yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus, yang mana mereka bermarga “Azmat khan” dan bersambung pada Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

Nasab beliau juga sampai pada keluarga Basyaiban yang bersambung pada Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbat Al-Alawi Al-Husaini.

Berikut ini adalah silsilah nasab Mbah Kholil, melalui jalur laki-laki yang bersambung pada Sunan Kudus, untuk menunjukkan hak beliau dalam menggunakan nama belakang (marga/fam) “Azmatkhan Al-Alawi Al-Husaini”, sesuai dengan adat dan istilah penasaban bangsa Arab.

Jalur Sunan Kudus (Garis laki-laki)

  1. Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
  2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
  3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
  4. Kiai Abdul Karim
  5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
  6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
  7. Kiai Selase. Dimakamkan di Selase Petapan, Trageh, Bangkalan.
  8. Kiai Martalaksana. Dimakamkan di Banyu Buni, Gelis, Bangkalan.
  9. Kiai Badrul Budur. Dimakamkan di Rabesan, Dhuwwek Buter, Kuayar, Bangkalan.
  10. Kiai Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
  11. Kiai Khatib. Ada yang menulisnya “Ratib”. Dimakamkan di Pranggan, Sumenep.
  12. Sayyid Ahmad Baidhawi (Pangeran Ketandar Bangkal). Dimakamkan di Sumenep.
  13. Sayyid Shaleh (Panembahan Pakaos). Dimakamkan di Ampel Surabaya
  14. Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) Dimakamkan di Kudus.
  15. Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung). Dimakamkan di Kudus.
  16. Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri /Raja Pandita). Dimakamkan di Gresik.
  17. Sayyid Ibrahim (Asmoro). Dimakamkan di TubanSayyid Husain Jamaluddin Dimakamkan di Bugis.
  18. Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin. Dimakamkan di Naseradab, Indi
  19. Sayyid Abdullah. Dimakamkan di Naserabad, India.
  20. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Dimakamkan di Naserabad, India.
  21. Sayyid Alawi ‘Ammil Faqih. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
  22. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath. Dimakamkan di Zhifar, Hadramaut, Yaman.
  23. Sayyid Ali Khali’ Qasam. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
  24. Sayyid Alawi. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
  25. Sayyid Muhammad. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
  26. Sayyid Alawi. Dimakamkan di Sahal, Yaman.
  27. Sayyid Abdullah/Ubaidillah. Dimakamkan di Hadramaut, Yaman.
  28. Al-Imam Ahmad Al-Muhajir . Dimakamkan di Al-Husayyisah, Hadramaut, Yaman.
  29. Sayyid Isa An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
  30. Sayyid Muhammad An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
  31. Al-mam Ali Al-Uradhi. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
  32. Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
  33. Al-Imam Muhammad Al-Baqir. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
  34. Al-Imam Ali Zainal Abidin. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
  35. Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dimakamkan di Karbala, Iraq.
  36. Sayyidatina Fathimah Az-Zahra’ binti Sayyidina Muhammad Rasulillah SAW. Dimakamkan di Madinah Al-Munawwarah

Dari jalur Sunan Kudus, Mbah Kholil adalah generasi ke-37 dari Rasulullah SAW.

Jalur Sunan Ampel (garis perempuan)

  1. Mbah Muhammad Kholil Bangkalan.
  2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
  3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
  4. Kiai Abdul Karim.
  5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
  6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
  7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
  8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
  9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
  10. Sayyid Muhammad Khathib (Raden Bandardayo). Dimakamkan di Sedayu Gresik.
  11. Sayyid Musa (Sunan Pakuan). Dimakamkan di Dekat Gunung Muria Kudus. Dalam sebagian catatan nama Musa ini tidak tertulis.
  12. Sayyid Qasim (Sunan Drajat). Dimakamkan di Drajat, Paciran Lamongan.
  13. Sayyid Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel). Dimakamkan di Ampel, Surabaya.
  14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Sulasi dan Kiai Sulasi bertemu.

Dari jalur Sunan Ampel, Mbah Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.

Jalur Sunan Giri (garis perempuan)

  1. Mbah Muhammad Kholil Bangkalan.
  2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
  3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
  4. Kiai Abdul Karim.
  5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
  6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
  7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
  8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
  9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
  10. Nyai Gede Kedaton (istri Sayyid Muhammad Khathib). Dimakamkan di Giri, Gresik.
  11. Ali Khairul Fatihi / Panembahan Kulon. Dimakamkan di Giri, Gresik.
  12. Sayyid Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri). Dimakamkan di Giri, Gresik.
  13. Maulana Ishaq. Dimakamkan di Pasai.
  14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Gede Kedaton dan Sayyid Muhammad Khathib bertemu.

Melalui jalur Sunan Giri, Mbah Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.

Jalur Sunan Gunung Jati (garis perempuan)

  1. Mbah Muhammad Kholil Bangkalan.
  2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
  3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
  4. Kiai Asror Karomah.
  5. Sayyid Abdullah.
  6. Sayyid Ali Al-Akba
  7. Syarifah Khadijah.
  8. Maulana Hasanuddin Dimakamkan di Banten.
  9. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Dimakamkan di Cirebon.
  10. Sayyid Abdullah Umdatuddin.
  11. Sayyid Ali Nuruddin/Nurul Alam.
  12. Sayyid Husain Jamaluddin Bugis. Disini nasab Nyai Khadijah dan Kiai Hamim Kholil bertemu.

Melalui jalur Sunan Gunung Jati, Mbah Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.

 Jalur Basyaiban (garis perempuan)

  1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
  2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
  3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
  4. Kiai Asror Karomah.
  5. Sayyid Abdullah.
  6. Sayyid Ali Al-Akbar.
  7. Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.
  8. Sayyid Abdurrahman (Suami Syarifah Khadijah binti Hasanuddin).
  9. Sayyid Umar.
  10. Sayyid Muhammad.
  11. Sayyid Abdul Wahhab.
  12. Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
  13. Sayyid Muhammad.
  14. Sayyid Hasan At-Turabi.
  15. Sayyid Ali.
  16. Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam.
  17. Sayyid Ali.
  18. Sayyid Muhammad Shahib Mirbat. Disini nasab keluarga Azmatkhan dan Basyaiban bertemu.

Maka, melalui jalur Sayyid Abdurrahman Basyaiban, Mbah Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.

Masa Kecil Mbah Kholil

Mbah Kholil dididik dengan sangat ketat oleh ayahnya. Mbah Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu, sangat luar biasa.

Bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik berjumlah 1002 bait sejak usia muda. Untuk memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, maka orang tua Mbah Kholil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.

Perjalanan Menuntut Ilmu Mbah Kholil

Perjalanan Mbah Kholil belajar kepada para kiai di tanah Jawa ini sangat menarik dan patut untuk diteladani, karena banyak hikmah dalam perjalanan beliau menuntut ilmu ini. Guru dan Pondok pesantren yang menjadi tempat belajar Mbah Kholil antara lain :

Kyai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Dari Langitan beliau pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan.

Kemudian beliau pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi.

Saat mondok di Keboncandi beliau juga belajar kepada Kyai Nur Hasan Sidogiri. Kyai Nur Hasan ini sesungguhnya, masih mempunyai hubungan keluarga dengan Mbah Kholil.

Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Mbah Kholil muda rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surah Yasin. Ini dilakukannya hingga ia -dalam perjalanannya itu- khatam berkali-kali.

Sewaktu menjadi Santri Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (tentang Nahwu dan Shorof). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Perjalanan menuntut ilmu ke Makkah

Mbah Kholil adalah orang yang mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Mbah Kholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah dia memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Kemandirian Mbah Kholil muda juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu ke Mekkah. Untuk mewujudkan impiannya kali ini, Mbah Kholil muda tidak menyatakan niat tersebut kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.

Kemudian, setelah Mbah Kholil memutar otak untuk mencari jalan kluar, akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi. Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas.

Selama nyantri di Banyuwangi ini, Mbah Kholil nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung.

Sedangkan untuk makan, Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya. Dari situlah Mbah Kholil bisa makan gratis.

Akhirnya, pada tahun 1276 H/1859 M, saat usianya mencapai 24 tahun, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Mekkah.

Namun sebelum berangkat, Mbah Kholil menikah dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.

Setelah menikah, berangkatlah beliau ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Mbah Kholil berpuasa. Hal tersebut dilakukan Mbah Kholil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.

Guru-guru beliau di Mekkah adalah:

  • Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten).
  • Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
  • Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan
  • Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki
  • Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani.

Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Mbah Kholil belajar pada para Syeikh dari berbagai madzhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat disembunyikan. Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syeikh yang bermadzhab Syafi’i.

Kehidupan Mbah Kholil di Makkah

Selama di Mekkah, Mbah Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi teman-temannya, cukup mengherankan.

Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan sikap keprihatinan temannya itu.

Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.

Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penulis kitab-kitab yang dibutuhkan oleh para pelajar.

Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi Al-Bantani, Mbah Kholil dan Syeikh Shaleh As-Samarani (Semarang) menyusun kaidah penulisan Huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

Mbah Kholil cukup lama belajar di beberapa pondok pesantren di Jawa dan Mekkah. Maka sewaktu pulang dari Mekkah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqh, tarekat dan ilmu-ilmu lainnya.

Kembali ke Tanah Air

Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun kepulangannya), Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat. Bahkan pada akhirnya, dia pun dikenal sebagai salah seorang Kyai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi.

Beliau juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Mbah Kholil dapat mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desa kelahirannya.

Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kyai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya.

Mbah Kholil sendiri mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari Pesantren lama dan desa kelahirannya.

Di tempat yang baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang.

Baca Juga : Biografi Mbah Sholeh Darat Semarang

Di sisi lain, Mbah Kholil disamping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat (nahwu dan sharaf), ia juga dikenal sebagai orang yang “waskita,” weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhir ini, nama Mbah Kholil lebih dikenal.

Perjuangan Melawan Penjajah

Seperti para Ulama Indonesia yang lain, Mbah Kholil pun merasa perlu untuk memperjuangkan bangsa dan negaranya agar terbebas dari penjajahan. Cara yang beliau ambil adalah:

Melalui bidang pendidikan

Mbah Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa.

Bukti dari cara ini adalah banyak pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya; salah satu diantaranya adalah KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebu Ireng dan Nahdlatul Ulama.

Tidak Melakukan Perlawanan Terbuka

Mbah Kholil lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang. Mbah Kholil pun tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian.

Saat penjajah mengetahuinya, Mbah Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri.

Namun hal ini malah membuat pusing pihak Belanda. Karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.

Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Mbah Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Mbah Kholil untuk dibebaskan saja.

Melakukan Kaderisasi

Mbah Kholil adalah seorang ulama yang benar-benar bertanggung jawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya.

Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekkah yang telah sepuh, tentunya Mbah Kholil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata, tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya.

Beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaan lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Mbah Kholil.

Murid dan Santri Mbah Kholil

Diantara sekian banyak murid Mbah Kholil yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah :

  1. H. Muhammad Hasan Sepuh – pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo
  2. H. Hasyim Asy’ari – pendiri Nahdlatul ‘Ulama, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (biografi beliau bisa dibaca pada artikel ini)
  3. H. Abdul Wahab Hasbullah – pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang
  4. H. Bisri Syansuri – pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang
  5. H. Manaf Abdul Karim – pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri
  6. H. Ma’sum – Lasem, Rembang
  7. H. Munawir – pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
  8. H. Bisri Mustofa – pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang
  9. H. Nawawi – pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
  10. H. Ahmad Shiddiq – pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Jember
  11. H. As’ad Syamsul Arifin – pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo
  12. H. Abdul Majjid – Batabata, Pamekasan
  13. H. Toha – pendiri Pondok Pesantren Batabata, Pamekasan
  14. H. Abi Sujak – pendiri Pondok Pesantren Astatinggi, Kebunagung, Sumenep
  15. H. Usymuni – pendiri Pondok Pesantren Pandian, Sumenep
  16. H. Zaini Mun’im – Paiton, Probolinggo
  17. H. Khozin – Buduran, Sidoarjo
  18. H. Abdullah Mubarok – pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya
  19. H. Mustofa – pendiri Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
  20. H. Asy’ari – pendiri Pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari, Bondowoso
  21. H. Sayyid Ali Bafaqih – pendiri Pondok Pesantren Loloan Barat, Bali
  22. H. Ali Wafa – Tempurejo, Jember
  23. H. Munajad – Kertosono, Nganjuk
  24. H. Abdul Fatah – pendiri Pondok Pesantren Al-Fattah, Tulungagung
  25. H. Zainul Abidin – Kraksaan, Probolinggo
  26. H. Zainuddin – Nganjuk
  27. H. Abdul Hadi – Lamongan
  28. H. Zainur Rasyid – Kironggo, Bondowoso
  29. H. Karimullah – pendiri Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso
  30. H. Muhammad Thohir Jamaluddin – pendiri Pondok Pesantren Sumber Gayam, Madura
  31. H. Hasan Mustofa – Garut
  32. H. Raden Fakih Maskumambang – Gresik
  33. Soekarno – Presiden Republik Indonesia pertama, menurut penuturan K.H. As’ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Syekh Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Syekh Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya.

Keluarga Mbah Kholil

Istri-Istri Mbah Kholil

Ada sembilan wanita yang tercatat sebagai istri Syaikhona Kholil, beberapa diantara mereka beliau nikahi setelah beberapa istri sebelumnya meninggal dunia.

Hal itu sangatlan wajar, karena Syaikhona Kholil itu berumur panjang, bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau berumur lebih dari seratus tahun, maka beliaupun beberapa kali kedahuluan meninggal oleh istri dan beberapa kali menikah lagi. Itulah sebabnya Syekh Kholil memiliki istri yang banyak.

Mereka adalah:

  • Nyai Raden Ayu Assek binti Ludrapati.
  • Nyai Ummu Rahma.
  • Nyai Raden Ayu Arbi’ah.
  • Nyai Kuttab.
  • Nyai Raden Ayu Nur Jati.
  • Nyai Mesi.
  • Nyai Sailah.

Dari sembilan istri itu, hanya empat orang yang menurunkan keturunan Syekh Kholil. Mereka adalah: Nyai Assek, Nyai Ummu Rahmah, Nyai Arbi’ah dan Nyai Mesi.

Putra-Putri Mbah Kholil

Dengan Nyai Assek:

  1. Ahmad (Meninggal masih kecil).
  2. Nyai Khotimah.
  3. M. Hasan.

Dengan Nyai Ummu Rahma:

  1. Nyai Rahma.

Dengan Nyai Arbi’ah:

  1. Imron.

Dengan Nyai Mesi:

  1. Badawi.
  2. Nyai Asma’.

Wafatnya Mbah Kholil

Mbah Kholil Bangkalan, wafat dalam usia yang lanjut, 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masehi.

Demikianlah sekelumit perjalanan hidup KH Kholil Bangkalan Madura (Syaikhona Mbah Kholil) Guru Ulama Nusantara yang disarikan dari berbagai sumber, semoga membawa manfaat dan berkah.

Mari kirimkan hadiah Fatihah kepada Syaikhona Kholil semoga rahmat Allah selalu tercurah kepadanya dan kita mendapatkan keberkahannya…. Al Fatihah

SebelumnyaRUU Pesantren dan Madrasah akan Disahkan DPR RI SesudahnyaTradisi Rebo Wekasan, Amalan dan Hukumnya (Ulasan Lengkap)
Banser Haram Jaga Gereja : BM PP MUS Sarang
.:: HASIL KEPUTUSAN MUSYAWAROH KUBRO KE-51 PP. MUS TENTANG BANSER JAGA Kita mungkin sudah sering mendengar kabar, atau bahkan pernah melihat adanya banser menjaga sejumlah gereja di tanah air. Salah...
200 Nama-nama Dai Penceramah Muballigh yang diakui Kementerian Agama RI
Kementerian Agama (Kemenag) merilis nama-nama penceramah yang telah dinyatakan layak menyampaikan materi keagamaan kepada publik. Dalam tahap awal ini sudah ada 200 nama yang diunggah di website resme Kemenag. Menteri...
Muhasabah: Sajak Rindu Untuk Sang Penciptaku
MUHASABAH: SAJAK RINDU UNTUK SANG PENCIPTAKU   (Muhasabah untuk kita, yang pernah dekat dengan Tuhan…namun sekarang jauh, karna kesibukan dan urusan duniawi)   Pernah terbesit rasa hati ini ingin melangkah...
Kajian Lengkap Nisfu Sya’ban
*NISYFU SYA’BAN* _By: Mohammad Bahauddin_ Seperti yang telah kita ketahui bulan sya’ban terdapat banyak sekali cabang kebaikan yang diambil dari arti namanya dari kata asysya’b, maka sangat disayangkan jika kita...
Kitab Al Mauhabah Al Ladunniyyah Syarakh Ar Rohabiyah – Ilmu Waris
Sahabat Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ilmu Waris adalah ilmu yang hilang pertama kali di dunia ini.” Permasalahan warisan adalah hal yang sering kali membuat putus tali persaudaraan. Rebutan warisan,...
10 Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti – nanti. bagi orang – orang mukmin, kepergian bulan Ramadhan jauh lebih disesalkan daripada kepulangan seorang tamu mulia yang berlalu pergi. Tak heran...


TINGGALKAN KOMENTAR

%d blogger menyukai ini: