SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Minggu, 20 05 2018 Mei 2018 >

Diterbitkan :
Kategori : Fiqih / Kajian Islam
Komentar : 0 komentar

santripondok.com – Sholat dhuha adalah sholat yang diwasiatkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW kepada sahabat Abu Hurairah untuk menjadi amal harian.

“Kekasihku –Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga hal padaku: berpuasa tiga hari setiap bulannya, melaksanakan sholat dhuha dua raka’at dan sholat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

KEUTAMAAN SHOLAT DHUHA

Sholat Dhuha mempunyai banyak sekali keutamaan, yang mungkin jarang diketahui oleh banyak orang. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam Khasais al-Ummah al-Muhammadiyyah menerangkan sebagian dari keutamaan-keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT bagi orang yang mau melakukan sholat Dhuha lengkap dengan haditsnya.

  1. Orang yang sholat Dhuha akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah.

“Barangsiapa yang selalu mengerjakan sholat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)

  1. Barangsiapa yang menunaikan sholat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Allah.

“Tidaklah seseorang selalu mengerjakan sholat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).

  1. Orang yang menunaikan sholat Dhuha akan dicatat sebagai ahli ibadah dan taat kepada Allah.

“Barangsiapa yang sholat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).

  1. Orang yang istiqamah melaksanakan sholat Dhuha kelak ia akan masuk surga lewat pintu khusus, pintu Dhuha yang disediakan oleh Allah.

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan sholat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. At-Thabrani).

  1. Allah mencukupkan rezeki orang yang sholat dhuha 4 rakaat.

“Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan menyukupimu di akhir harimu.” (HR. Abu Darda`).

  1. Orang yang mengerjakan sholat Dhuha ia telah mengeluarkan sedekah.

“Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Muslim).

TATA CARA SHOLAT DHUHA

Waktu Sholat Dhuha

Sholat dhuha adalah sholat sunah yang ditentukan waktu pelaksanaannya yakni pada waktu dhuha. Namun jangan sampai dilakukan pada waktu terlarang. Pertanyaannya, kapankah waktu sholat dhuha itu?

Menurut Syekh Hasan bin ‘Ammar, salah satu ulama mazhab Hanafi, dalam kitab Maraqil Falah, (Cetakan 1, Terbitan Al-Maktabah Al-‘Ashriyah, 2005 M, halaman 149), kata dhuha itu sendiri adalah nama dari waktu yang diawali dengan naiknya matahari hingga sebelum tergelincir. Pandangan ini diperjelas oleh Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Kharasyi Al-Maliki:

لِأَنَّ مِنْ طُلُوعِ الشَّمْسِ إلَى الزَّوَالِ لَهُ ثَلَاثَةُ أَسْمَاءٍ فَأَوَّلُهَا: ضَحْوَةٌ وَذَلِكَ عِنْدَ الشُّرُوقِ. وَثَانِيهَا: ضُحًى مَقْصُورٌ وَذَلِكَ إذَا ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ. وَثَالِثُهَا: ضَحَاءٌ بِالْمَدِّ وَذَلِكَ إلَى الزَّوَالِ. وَالْمُرَادُ بِالْوَقْتِ الَّذِي يُنْسَبُ إلَيْهِ الصَّلَاةُ ارْتِفَاعُ الشَّمْسِ وَهُوَ مَقْصُورٌ

Artinya, “Sungguh, waktu antara terbit matahari hingga tergelincir terbagi tiga. Pertama, waktu dhahwah. Waktu itu terjadi pada saat terbit. Kedua, waktu dhuha yang dibatasi dengan naiknya matahari. Ketiga, waktu dhaha. Waktu itu (dimulai dari habis waktu dhuha) hingga tergelincir matahari. Dengan demikian, yang dimaksud waktu yang dinisbahkan pada sholat dhuha adalah waktu di mana naiknya matahari. Naiknya matahari itulah yang menjadi batasnya,” (Lihat Al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, Beirut, Darul Fikr, jilid II, halaman 4).

Dari kutipan di atas, kita tahu bahwa waktu antara terbit matahari hingga tergelincir matahari terbagi menjadi tiga waktu:

  1. Waktu dhohwah, yaitu dimulai dari terbitnya matahari hingga naik setinggi satu tombak.
  2. Waktu dhuha, dimulai dari matahari setinggi satu tombak hingga waktu istiwa (matahari tepat di tengah).
  3. Waktu dhaha, yaitu dimulai dari waktu istiwa hingga waktu tergelincir.

Dari pembagian diatas, waktu dhuha bukanlah waktu terbitnya matahari, melainkan waktu setelah matahari melewati ketinggian satu tombak hingga waktu istiwa’. Dan Waktu Dhuha inilah yang diperbolehkan menunaikan sholat dhuha.

Dengan kata lain, waktu dhuha adalah waktu yang sudah keluar dari waktu diharamkan untuk sholat—yakni waktu matahari terbit hingga naik satu tombak—sampai waktu haram berikutnya—yaitu waktu matahari tepat di tengah (istiwa).

Pertanyaannya, berapakah ukuran satu tombak yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW? Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran ini, mulai dari ukuran tak standar hingga yang standar.

  1. Menurut Syekh Abu Sulaiman dalam Ma‘alimus Sunan, satu tombak di sana hanyalah menurut pandangan mata telanjang.
  2. Dalam Hasyiyatul Bujairimi, Syekh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar menyebutkan, satu tombak di sana kira-kira tujuh dzira (hasta) dalam pandangan mata telanjang.
  3. Dalam Hasyiyatud Dasuqi ‘ala Syarhil Kabir, Syekh Muhammad bin Ahmad bin ‘Arafah Ad-Dasuqi menyebut bahwa satu tombak di sana kira-kira 12 jengkal ukuran sedang.
  4. Syekh Wahbah Az-Zuhaili menyebut dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, satu tombak dimaksud kira-kira sepanjang 2,5 meter.

وطول الرمح:50،2م أو سبعة أذرع في رأي العين تقريباً، وقال المالكية: اثنا عشر شبراً

“Satu tombak itu sepanjang 2,5 meter, atau kira-kira tujuh hasta dalam penglihatan kasat mata. Sedangkan menurut para ulama Maliki, satu tombak adalah 12 jengkal,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Beirut, Darul Fikr, cetakan keempat, jilid I, halaman 676).

  1. Dalam kitab Al-Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitab was Sunahdan juga kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhukarya Az-Zuhaily disebutkan, jika dikonversi ke waktu, satu tombak di sana kira-kira selama 1/4 sampai 1/3 jam atau 15-20 menit (sejak matahari terbit). Hanya saja, dalam Kitab Al-Fiqhul Muyassar, satu tombak ditaksir satu meter dalam pengamatan mata.

الثاني: من طلوع الشمس حتى ترتفع قدر رمح في رأي العين، وهو قدر متر تقريباً، ويقدر بالوقت بحوالي ربع الساعة أو ثلثها. فإذا ارتفعت الشمس بعد طلوعها قدر رمح فقد انتهى وقت النهي،  ورد في حديث ابن عبسة حتى يعدل الرمح ظله

Artinya, “Waktu terlarang yang kedua adalah dari terbit matahari hinggi naik setinggi satu tombak dalam pandangan kasat mata, yaitu kira-kira satu meter. Jika dikonversi kepada waktu, kira-kira selama seperempat atau sepertiga jam. Setelah matahari naik satu tombak, maka berakhirlah waktu terlarang. Namun, dalam hadits riwayat ‘Abasah disebutkan, hingga bayangan tombak sama dengan panjang tombaknya,” (Lihat Al-Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitab was Sunah, Majma‘ul Malik Fahd, jilid I, halaman 66).

  1. Ada pula yang mengatakan bahwa satu tombak kira-kira matahari setinggi 4 derajat. Jika satu derajat adalah empat menit, maka lamanya adalah 16 menit sejak ia terbit.

Lebih mudah lagi, sekarang ini waktu dhuha dapat diketahui dengan mengacu pada jadwal imsakiah yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kredibel, yaitu Kemenag RI, MUI, Lembaga Falakiyah NU, dan lembaga lain. Sebab, jadwal tersebut biasanya sudah mencantumkan waktu syuruq atau waktu terbit matahari. Caranya, waktu syuruq tersebut ditambah 15-20 menit, maka itulah waktu sholat dhuha. Termasuk waktu sholat lain yang bersamaan dengan waktu sholat dhuha adalah sholat Idul Fitri dan sholat Idul Adha.

Contoh, jika waktu syuruq (terbit) adalah pukul 05:53, maka setelah ditambah 20 menit waktu dhuhanya adalah pukul 06:13.

Waktu terbaik melakukan Sholat Dhuha

Setelah kita mengetahui Waktu untuk melaksanakan sholat dhuha, lalu kapankah dari waktu tersebut yang paling baik untuk melaksanakan sholat dhuha?

Adapun waktu terbaik sholat dhuha, sedikitnya ada dua hadits yang menyebutkannya:

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Zaid bin Arqam melihat orang-orang melaksanakan sholat Dhuha (di awal pagi). Ia pun berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa sholat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sholat orang-orang awwabin (orang yang taat; kembali pada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” (HR. Muslim)

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْماً يُصَلُّونَ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِه السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ صَلاَةَ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Zaid bin Arqam melihat orang-orang melaksanakan sholat Dhuha di masjid Quba. Ia lantas mengatakan, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa sholat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sholat orang-orang awwabin adalah ketika anak unta mulai kepanasan”.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Dalam Madzhab Imam Syafi’i dijelaskan bahwa waktu terbaik itu ditandai dengan padang pasir terasa panas dan anak unta beranjak.

Niat Sholat Dhuha (Arab dan Latin)

Menurut IJMA’ ulama bahwa niat adalah bertempat di hati. Niat yang hanya diucapkan lisan tanpa menyebutkannya dalam hati belum dianggap cukup, karena mengucapkan niat dengan lisan bukanlah suatu syarat. Artinya, tidak harus melafalkan niat. Meskipun begitu menurut Jumhurul Ulama (Mayoritas Ulama) selain madzhab Maliki, hukumnya adalah sunnah dalam rangka membantu hati menghadirkan niat.

Sedangkan dalam madzhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam madzhab Syafi’i, lafal niat sholat dhuha sebagai berikut:

أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

(Usholli sunnatadh dhuhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa)

“Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala”

Jumlah Rakaat Sholat Dhuha

Berapakah Jumlah Rakaat sholat dhuha? Sholat dhuha dikerjakan minimal dua rakaat. Rasulullah kadang mengerjakan sholat dhuha empat rakaat, kadang delapan rakaat. Ada yang mengatakan 12 rakaat, ada yang yang mengatakan bisa lebih banyak lagi hingga waktu dhuha habis. Dalilnya sebagai berikut :

Mu’adz pernah menanyakan pada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tentang berapa jumlah raka’at shalat Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? ‘Aisyah menjawab, “Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.” (HR. Muslim no. 719).

Bagaimana cara melaksanakan Sholat Dhuha?

Tata cara sholat dhuha tidak ada beda dengan sholat pada umumnya, hanya Niatnya saja yang membedakan juga waktunya, bila dijabarkan caranya adalah sebagai berikut:

  1. Niat sholat dhuha (seperti disebutkan diatas)
  2. Takbiratul ikram, membaca الله أكبر. Setelah takbir disunnahkan membaca doa iftitah.
  3. Membaca surat Al Fatihah
  4. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Bisa surat Asy Syams atau lainnya.
  5. Ruku’ dengan thuma’ninah
  6. I’tidal dengan thuma’ninah
  7. Sujud dengan thuma’ninah
  8. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah
  9. Sujud kedua dengan thuma’ninah
  10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua
  11. Membaca surat Al Fatihah
  12. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Bisa surat Adh Dhuha atau lainnya.
  13. Ruku’ dengan thuma’ninah
  14. I’tidal dengan thuma’ninah
  15. Sujud dengan thuma’ninah
  16. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah
  17. Sujud kedua dengan thuma’ninah
  18. Tahiyat akhir dengan thuma’ninah
  19. Salam

Demikian tata cara sholat dhuha. Bila menghendaki lebih dari dua rakaat, maka diulang sampai bilangan rakaat delapan atau yang dikehendaki. Dimana dalam praktiknya adalah setiap dua rakaat salam. Seperti hadits berikut :

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ الْفَتْحِ صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ

Dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat. Pada setiap dua rakaat, beliau mengucap salam (HR. Abu Dawud; shahih)

Doa Sholat Dhuha (Arab dan Latin)

Tidak ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah selesai sholat dhuha. Sehingga dalam kitab-kitab Fiqih, para ulama sama sekali tidak mencantumkan doa sholat dhuha. Misalnya dalam Fiqih Sunnah, Fiqih Islam wa Adillatuhu, Fikih Empat Madzhab maupun Fiqih madzhab Imam Syafi’i. Sehingga, kita boleh berdoa secara umum dengan doa apapun yang baik.

Ada satu doa sholat dhuha yang sangat populer, yaitu:

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

“Allahumma innadh dhuha a dhuhauka wal baha a bahauka wal jamala jamaluka wal quwwata quwwatuka wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allahumma inkana rizqiy fis samai faanzilhu wa inkana fil ardhi fa akhrijhu wa inkana muassaran fa yassirhu wa inkana haraman fa thohhirhu wa inkana ba’iydan fa qorribhu bi haqqi dhuhaika wa bahaika wa jamalika wa quwwatika qa qudrotika aatiniy maa aataita bihi ‘ibaadakash sholihina”

“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalih”.

Doa ini bukanlah berasal dari hadits Nabi. Doa ini dicantumkan oleh Asy Syarwani dalam Syarh Al Minhaj dan disebutkan pula oleh Ad Dimyathi dalam I’anatuth Thalibiin.

Sahabat, demikian artikel tentang Sholat Dhuha : Keutamaan, Waktu dan Caranya. Semoga kita bisa mendawamkan dan mengistiqomahkan sholat dhuha ini. Bila ada kekurangan mohon maaf dan masukannya. Bila bermanfaat silahkan dibagikan agar ilmu ini bermanfaat. Aaamiin.

SebelumnyaLogo, Arti dan Makna Lambang NU (Full Size HD) SesudahnyaCatatan JTMNU Jamaah Tahlil dan Kematian NU
Banser Haram Jaga Gereja : BM PP MUS Sarang
.:: HASIL KEPUTUSAN MUSYAWAROH KUBRO KE-51 PP. MUS TENTANG BANSER JAGA Kita mungkin sudah sering mendengar kabar, atau bahkan pernah melihat adanya banser menjaga sejumlah gereja di tanah air. Salah...
200 Nama-nama Dai Penceramah Muballigh yang diakui Kementerian Agama RI
Kementerian Agama (Kemenag) merilis nama-nama penceramah yang telah dinyatakan layak menyampaikan materi keagamaan kepada publik. Dalam tahap awal ini sudah ada 200 nama yang diunggah di website resme Kemenag. Menteri...
Muhasabah: Sajak Rindu Untuk Sang Penciptaku
MUHASABAH: SAJAK RINDU UNTUK SANG PENCIPTAKU   (Muhasabah untuk kita, yang pernah dekat dengan Tuhan…namun sekarang jauh, karna kesibukan dan urusan duniawi)   Pernah terbesit rasa hati ini ingin melangkah...
Kajian Lengkap Nisfu Sya’ban
*NISYFU SYA’BAN* _By: Mohammad Bahauddin_ Seperti yang telah kita ketahui bulan sya’ban terdapat banyak sekali cabang kebaikan yang diambil dari arti namanya dari kata asysya’b, maka sangat disayangkan jika kita...
Kitab Al Mauhabah Al Ladunniyyah Syarakh Ar Rohabiyah – Ilmu Waris
Sahabat Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ilmu Waris adalah ilmu yang hilang pertama kali di dunia ini.” Permasalahan warisan adalah hal yang sering kali membuat putus tali persaudaraan. Rebutan warisan,...
10 Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti – nanti. bagi orang – orang mukmin, kepergian bulan Ramadhan jauh lebih disesalkan daripada kepulangan seorang tamu mulia yang berlalu pergi. Tak heran...


TINGGALKAN KOMENTAR

%d blogger menyukai ini: