SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Minggu, 20 05 2018 Mei 2018 >

Diterbitkan :
Kategori : Aswaja
Komentar : 0 komentar

Catatan JTMNU Jamaah Tahlil dan Kematian NU

Bismillahirrahmanirrahim.
Tulisan ini adalah catatan saya pribadi sebagai salah seorang yang terjun dan menekuni perjuangan agama tingkat desa. Catatan tetang beberapa organisasi atau paguyuban sosial keagamaan seperti ini akan saya bagikan, tentu jika waktu memungkinkan.

Maksud penulisan catatan ini adalah untuk memotret realitas, barangkali oleh para pegiat keagamaan bisa dipetik inspirasi dari sisi baiknya, dan digunakan koreksi dari sisi buruknya. Dengan mencatatkannya seperti ini, capaian kebaikan sekaligus turunan kemerosotan dapat ditelaah.

KRISTENISASI VS DAKWAH ISLAM ?
Cerita dari mulut ke mulut yang sering saya dengar dari warga, khususnya oleh para perintis paguyuban ini menyebutkan bahwa pada era 70-80an, selama beberapa waktu desa Bakalan dipimpin oleh kepala desa beragama Kristen yang sekaligus seorang missionaris. Kepala Desa kaya raya sekaligus tuan tanah ini disebut-sebut menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk melakukan apa yang mereka sebut kristenisasi. Para penggarap sawah miliknya banyak yang berhasil dikristenkan. Demikian pula orang-orang tidak mampu lainnya. Kepada mereka dia banyak memberi bantuan, mulai dari bantuan berupa sembako hingga berupa sapi untuk diternak. Mulai dari mencukupi keperluan sehari-hari hingga menyediakan peralatan kematian dan pemakaman yang diperlukan mereka saat ada yang meninggal dunia.

(Meskipun di Kecamatan Dukuhseti, terdapat desa yang menjadi salah satu poros misi injili sehingga desa Bakalan sebagaimana desa-desa sekitarnya menjadi target misi itu, tidak mudah bagi saya untuk terbawa oleh cerita dan situasi menimbulkan persaingan ‘antara agama’ tersebut. Maklum, saya berasal dari Rembang kota, desa Tasikagung, dukuh Rembangan (0 km-nya Rembang ?). Kawasan di mana umat-umat muslim, kristen, katolik dan budha hidup berdampingan secara harmonis. Mushalla-mushalla, beberapa gereja, klenteng dan wihara ‘beroperasi’ secara wajar dengan saling menghormati satu sama lain. Para kiai sangat dihormati oleh non-muslim, sampai-sampai muncul cerita ada kiai besar di Rembang yang diminta melakukan shalat jenazah untuk seorang warga kristen keturunan China. Semua itu membuat saya merasa aneh mendengar cerita-cerita tentang kristenisasi melawan dakwah Islam. Termasuk hingga saat ini. Pernah sekali waktu saya membandingkan dua pola hubungan, di Rembang dan di Dukuhseti, yang berbeda bahkan cenderung berkebalikan itu. Saya sempat menduga, ada pengaruh yang signifikan dari faktor tingkat pendidikan dan ekonomi yang mempengaruhi terbentuknya pola hubungan itu).

RINTISAN DAN PENATAAN
Ketika saya datang dan mulai tinggal di Bakalan pada tahun 1999, kondisi dan peta politik serta gairah keagamaan di Desa sudah berubah, seiring dengan terjadinya pergantian kepala desa. Gerakan-gerakan yang disebut ‘kristenisasi’ juga bisa disebut berhenti sama sekali. Kepala desa terpilih saat adalah mantan anggota TNI yang kebetulan putra tokoh yang dituakan secara agama, Almarhum H Abdul Hayyun. H Abdul Hayyun ini pulalah perintis dan ketua pertama paguyuban Jamaah Tahlil. Selanjutnya beliau digantikan oleh K Ali Masudi, lalu K Ahmad Thayib Rohmat. Saya yakin, antara lain karena ‘tangan-tangan’ merekalah kondisi dan gairah keagaman berubah menjadi baik, sebagaimana saya saksikan di awal kedatangan saya.

Seiring waktu, pada tahun 2003 dilaksanakan rapat reorganisasi berupa pergantian pengurus lama karena telah habis masa khidmahnya. Saya diminta oleh forum rapat untuk menjadi ketua dan saya menerima. Karena menjadi ketua, maka saya serta merta saya harus mendaftar sebagai anggota. Dan oleh karena belum banyak mengetahui ‘sepak terjang’ paguyuban ini maka saya perlu mempelajari dan berkonsultasi dengan para pendahulu.

Memang selama itu paguyuban sosial keagamaan ini dikelola secara tradisional karena belum menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern, berbasis ketokohan, mengandalkan keikhlasan dan kadang sebagian pengurus melakukan apa yang saya sebut dengan ‘privatisasi’. Namun saya memandang bahwa pada masanya fenomena-fenomena tidak disiplin administrasi seperti itu adalah sebuah kewajaran. Bahkan pada bagian-bagian tertentu, misalnya aspek transparansi keuangan tidak berjalan baik di satu sisi, namun justru proteksi terhadap uang organisasi diterapkan sangat ketat. Saya dengar, pernah suatu masa uang organisasi disimpan dalam kotak terkunci dengan pengaman 3 buah gembok sekaligus. Masing-masing anak kunci gembok dipegang oleh 3 orang pengurus yang berbeda, sehingga kotak tersebut hanya bisa dibuka secara bersama-sama oleh ketiga orang pengurus pemegang anak kunci.

Dengan pengalaman berorganisasi sebelumnya, saya berikhtiar merapikan organnisasi yang sebetulnya secara kultural sudah mengakar kuat ini. Yang pertama saya lakukan adalah meresmikan sebutan organisasi. Kami memberi nama organisasi ini Jamaah Tahlil dan Kematian Nahdlatul Ulama, disingkat JTMNU. Kata “NU” kami sertakan untuk menegaskan bahwa organisasi ini dibentuk, dibina dan dibawahi oleh NU Ranting Bakalan, meskipun dalam AD ART NU tidak pernah saya temukan organ atau struktur bernama JTM. Kami hanya ‘mengakuisisi’ organisasi yang sudah mengakar ini tanpa harus menghilangkan identitasnya. Sebelumnya tidak pernah disebut dengan tegas bahwa organisasi ini dibentuk oleh Ranting NU. Dan oleh karena kemudian dinyatakan dibentuk oleh Ranting NU dan diniatkan hanya dalam level ranting,serta adanya kendala ‘regulasi’, maka JTMNU tidak melakukan ‘ekspansi’ dan pengembangan ke desa-desa sekitar.

Semula organisasi ini disebut hanya sebagai ‘Jamaah Tahlil’. Kami menambahkan kata “Kematian NU”, karena faktanya yang diurus tidak hanya tahlilannya saja, akan tetapi dan justru yang utama adalah terkait kematiannya anggota. Memang gabungan kata ‘kematian’ dengan ‘NU’ punya konotasi makna yang buruk, sehingga banyak menimbulkan keganjilan. Namun kami tidak berniat merubahnya, karena tokh orang juga pasti tahu makna seperti apa yang kami kehendaki. Bahkan justru secara agak sengaja hal itu kami biarkan, suapa ada ‘sensasi’nya.

Semenjak resmi bernama JTMNU, sebetulnya kami ingin bahwa organisasi ini sajalah yang menjadi sayap NU mengurusi hal-hal terkait kematian warganya. Sedangkan urusan ‘kehidupan’ mereka biar menjadi fokus organisasi induknya, yaitu Pengurus Ranting NU. Namun memang kenyataan membuktikan bahwa mengurus ‘kematian’ adalah lebih mudah dibanding dengan mengurus ‘kehidupan’. Apalagi di NU.

Struktur kepengurusan kami tata terutama untuk memperjelas siapa menangani apa dan siapa bisa mengkomando siapa. Personalia pengurus 90% orang lama, dan itu tidak mengapa. Termasuk bahwa mereka adalah orang-orang tua, kuno dan berusia di atas 50 tahun. Justru kami merasa lebih mudah mempromosikan organisasi ini jika keanggotaannya merupakan kelompok usia tertentu, yaitu orang yang secara sosial disebut sudah tua dan secara psikologis sudah lebih banyak memikirkan ‘kematian’ dibanding ‘kehidupan’. Untuk mempromosikan agar orang bergabung, kami sering mengutip adanya trend budaya di barat dan kota-kota besar di Indonesia bahwa orang-orang yang lanjut usia banyak yang oleh anak-anak kandung mereka sendiri dititipkan di panti-panti jompo. Pasalnya, di tempat itulah mereka bisa dengan tenang dan senang menghabiskan masa tua, sambil (mohon maaf) menunggu ajal. Alangkah memilukan hati fenomena yang demikian ini. Oleh karena itu kami tinggal menambahkan penjelasan kepada warga betapa pentingnya orang-orang yang telah berusia lanjut bergabung dengan kelompok-kelompok sebaya lalu melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang tidak banyak menyita fisik, namun cukup untuk digunakan sebagai wahana menghabiskan sisa umur dalam jalan kebaikan,baik secara religius maupun secara sosial. Sebetulnya bagi mereka ada wadah yang lebih sempurna, yaitu bergabung dan berbaiat dalam suatu tarekat. Namun butuh jembatan waktu dan pendekatan untuk ‘menggiring’ orang awam bisa dan mau merapat ke sana.

PROFIL ORGANISASI
Sebetulnya hingga saat ini kami tidak atau belum mempatenkan visi organisasi. Namun jika dipaksa diverbalkan mungkin berbunyi “mengantar dan mengirimkan yang terbaik untuk jenazah”. Atau jika secara bergurau mungkin berbunyi “silahkan meninggal, karena baik saat meninggal maupun setelahnya Anda tiada disia-siakan”.

Saat tulisan ini dibuat, anggota organisasi ini tercatat sekitar 500 orang. Namun ke-lima ratus anggota ini membawakan hak bagi anggota keluarga yang dinafkahinya, berapapun jumlahnya, sebagaimana nanti diterangkan di bawah. Jadi, dengan mengandaikan seorang suami menjadi anggotaa, maka dia bisa membawakan hak keluarganya, yaitu istri dan anak-anak yang dinafkahi atau masih hidup serumah dengannya. Bahkan bisa membawakan pula hak orang tua kandung dan mertua. Dengan asumsi demikian maka saya bisa mengklaim 80% lebih dari 4.000an warga Bakalan jika meninggal dunia akan ikut diurus oleh JTMNU.

Sebagai ketua saya merasa punya beban moral dan institusional untuk bertakziyah setiap saat ada anggota atau keluarga anggota yang meninggal dunia. Dan tentu tidak masuk akal jika saya (atau siapapun) bisa memenuhinya beban seperti itu. Akhirnya saya berpesan secara implisit kepada para penarik agar hanya mengabarkan kepada saya jika yang meninggal adalah orang yang baik secara agama, dan terutama jika yang bersangkutan secara ekonomi termasuk kurang mampu. Menurut pengamatan saya pentakziyah jenazah orang miskin biasanya hanya sedikit, sedangkan pentakziyah jenazah orang mampu relatif banyak.

PROGRAM DAN KEGIATAN

a. Pengajian selapanan; Induk dan Kelompok
Program bersifat pendidikan ini adalah berupa kegiatan pertemuan rutin tiap selapan (35 hari) sekali, yaitu tiap malam Jumat Legi bakda Isya, bertempat di masjid Jami’ Al Ilham. Sebelum dimulai acara selapanan lebih dulu dibacakan ribuan nama-nama arwah yang dikirim oleh anggota untuk ditahlilkan. Rangkaian acara dalam selapanan ini adalah pembukaan, tahlil, sambutan dan laporan perkembangan JTMNU, laporan keuangan dan mauidzah hasanah. Semula kegiatan selapanan ini bersifat tunggal dan terpusat di masjid Jami’. Namun seiring dengan perkembangan waktu dan tuntutan keadaan,acara selapanan kemudian diselenggarakan juga di mushalla-mushala. Pasaran harinya dibuat berbeda. Misalnya di mushalla A, selapanan diselenggarakan pada malam Jumat Kliwon dan di mushalla B pada malam Jumat Pahing dan seterusnya. Yang di masjid kami sebut Selapanan Induk dan yang di mushalla-mushalla kami sebut Selapanan Kelompok.Dengan demikian anggota dan jamaah bisa dan biasanya cukup memilih menghadiri kegiatan selapanan di mushalla terdekat.

Laporan keuangan dalam majlis selapanan menyampaikan perolehan uang kiriman arwah (1 arwah Rp. 100,-), perolehan uang iuran selapanan (Rp. 1.000,- dari tiap anggota) dan iuran kematian selama selapan terakhir (untuk 1 kematian Rp. 1.000,- dari tiap anggota). Tentu juga dilaporkan siapa saja anggota atau keluarga anggota yang meninggal, serta siapa yang mendaftar menjadi anggota baru. Penarikan iuran-iuran di lapangan dilakukan oleh para penarik/kolektor (ada 17 orang penarik di 21 RT se-Desa). Uang yang dihimpun itu selanjutnya digunakan untuk santunan kematian, membeli kafan dan kelengkapannya, dan untuk melengkapi peralatan pemulasaraan, mulai dari kursi, tratak, mesin pengeras suara, peralatan memandikan, keranda, payung, cangkul dan lain sebagainya.

b. Pengajian Tahunan
JTMNU menyelenggarakan pengajian tahunan di bulan Rajab, mengiringi peringatan Isra Mi’raj. Acara Rajabiyah menjadi semacam puncak kegiatan tahunan. Pengajian ini semula hanya mempunyai satu inti acara, yaitu ceramah agama. Seiring dengan trend salawatan dan demi mengharap keberkahan majlis salawat,inti acara menjadi dua, ceramah dan salawatan. Beberapa tahun terakhir JTMNU menghadirkan para penceramah nasional dan ‘keluar-masuk tv’, termasuk penceramah dari Jakarta. Meskipun demikian JTMNU tetap menggunakan kriteria ketat dalam menentukan penceramah, yaitu kiai yang alim di bidang agama, salih, komunikatif dan berkarakter Islam Nusantara. Sedangkan untuk salawatan biasanya JTMNU minta dipimpin oleh para habaib.

c. Santunan Peralatan Kematian Dan Perlengkapan
Belakangan baru saya sadari, ternyata program yang sudah berjalan puluhan tahun ini identik dengan program BPJS. Jika terdapat anggota atau keluarga anggota yang meninggal maka yang bersangkutan berhak atas santunan yang dihimpun secara gotong royong dari segenap anggota lainnya. Santunan tersebut adalah berupa kain kafan beserta kelengkapannya, batu nisan, dan uang takziyahan. Oleh karena itu setiap saat JTMNU selalu punya stok peralatan yang cukup jika sewaktu-waktu terdapat kematian,apalagi jika terjadi bersamaan.

Oleh karena anggota JTMNU beragam latar belakang ekonomi, sosial, dan pola pikirnya, maka terkait hak-hak tersebut, masing-masing keluarga duka bersikap beragam. Ada yang mengambil semua hak-haknya. Ada yang mengambil sebagian. Ada yang mengambil lalu dikembalikan untuk nantinya disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Motifasinya juga beragam. Ada yang mengambil karena membutuhkan, ada juga yang karena ingin mengalap berkah kebaikan amalnya selama menjadi anggota JTMNU. Sebaliknya, ada yang tidak mengambil karena sudah mempersipkan segala peralatan kematian, dan ada juga yang memang berniat menyumbangkannya. Menyadari bahwa masing-masing punya alasan dan iktikad baik, perbedaan sikap itu tidak pernah menjadi bahan pergunjingan. Bahkan saat JTMNU memberikan santunan kepada yang membutuhkan, meskipun yang bersangkutan bukan anggota maupun keluarga anggota.

Secara bergurau ada yang menyebut program santunan semacam ini adalah ‘arisan kematian’, dimana yang mendapat arisan adalah orang yang namanya ‘keluar’ saat ‘diundi’ oleh malaikat Izrail. Jadi, lanjut mereka, ‘Silahkan meninggal, karena engkau tidak akan disia-siakan’. Gurauan seperti itu selama ini kami biarkan, karena memang demikian itu penjelasan paling mudah untuk mendeskripsikan program bersifat santunan gotong royong yang kelak juga sistemnya diterapkan dalam pengelolaan BPJS Kesehatan.

d. Pencatatan Kematian Anggota dan Keluarga
Pada masa awal merapikan JTMNU, kami bertekad untuk memiliki data kematian di Bakalan. Data tersebut menyangkut siapa meninggal dunia, kapan hari, pasaran, tanggal, bulan tahun, jam, penyebab dan atau peristiwa penting yang menyertai. Kami membayangkan data ini akan menjadi rujukan apa saja yang terkait dengan kematian warga,mulai dari urusan kapan keluarga membuat acara kirim doa hingga urusan-urusan hukum, baik hukum agama maupun hukum positif. Peran dan fungsi yang seperti itu kami kira mudah kami lakukan, karena selama ini hampir setiap kematian pasti dilaporkan kepada JTMNU, terutama kepada bendahara, untuk diuruskan hak-haknya jenazah. Dan kami juga yakin, dengan peran dan fungsi demikian, kami hanya tinggal menunggu waktu bahwa seluruh warga tanpa kecuali kelak akan tertarik menjadi anggota atau setidaknya keluarga anggota. Karena saat mereka meninggal dunia benar-benar ‘nasib’ mereka ‘ tidak disia-siakan”. Dan sebetulnya untuk mempersiapkan program tersebut kami telah membuat beberapa jilid buku induk kematian, yang akan digunakan sebagai dokumen manual, sebelum nantinya dimasukkan dalam komputer.

Namun sayang, sumber daya manusia yang dimiliki JTMNU terutama para pengurusnya tidak atau belum siap. Orang-orang kampung yang lugu, usia yang sepuh, pendidikan yang terbatas, skil IT yang nihil adalah kombinasi yang maksimal untuk membuat program strategis dan bermanfaat ini terhenti setelah sempat berjalan 2-3 bulan.

PENUTUP DAN OTOKRITIK
Saya akhirnya berkesimpulan, bahwa sebenarnya telah banyak yang dilakukan kelompok-kelompok muslim tradisionalis di negeri ini sebagaimana JTMNU, dalam menyebarkan dan menggerakkan simpul-simpul ajaran spiritual dan sosial agama. Masing-masing mempunyai kekhasan yang tidak serta merta bisa diduplikasi dari dan untuk kelompok atau daerah lain. Hanya karena mereka melakukan amal-amal salih dan tulus seperti itu tanpa pemberitaan, maka terkesan seakan-akan mereka tidak melakukan apa-apa dibandingkan kelompok-kelompok baru, yang hanya karena rajin memberitakan amal-amal kecilnya, terkesan seakan-akan telah melakukan banyak hal yang besar-besar.

Sebagai otokritik terhadap kelompok-kelompok muslim tradisional, saya memandang keniscayaan melakukan modernisasi dan kaderisasi, baik kemudian ada pemberitaan maupun tidak. Termasuk dalam usaha modernisasi adalah melakukan edukasi kepada jamaah. Sekedar contoh kecil, harus selalu diingatkan pada mereka bahwa meskipun benar mengirim doa kepada orang mati ada manfaatnya, namun manfaat yang diterimanya masih jauh sangat kecil dibandingkan dengan amal-amal yang dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan saat masih hidup. Sedangkan termasuk kaderisasi adalah pemanfaatan teknologi khusunya bidang informasi telekomunikasi.
Allahu A’lam.

Bakalan, 13 Maret 2018
Umar Farouq

(keterangan foto: Pamflet acara Rajabiyah JTMNU pekan ini)

SebelumnyaSHOLAT DHUHA | KEUTAMAAN, WAKTU DAN TATA CARANYA SesudahnyaPengertian, Makna, Keutamaan dan Amaliyah Bulan Rajab
Banser Haram Jaga Gereja : BM PP MUS Sarang
.:: HASIL KEPUTUSAN MUSYAWAROH KUBRO KE-51 PP. MUS TENTANG BANSER JAGA Kita mungkin sudah sering mendengar kabar, atau bahkan pernah melihat adanya banser menjaga sejumlah gereja di tanah air. Salah...
200 Nama-nama Dai Penceramah Muballigh yang diakui Kementerian Agama RI
Kementerian Agama (Kemenag) merilis nama-nama penceramah yang telah dinyatakan layak menyampaikan materi keagamaan kepada publik. Dalam tahap awal ini sudah ada 200 nama yang diunggah di website resme Kemenag. Menteri...
Muhasabah: Sajak Rindu Untuk Sang Penciptaku
MUHASABAH: SAJAK RINDU UNTUK SANG PENCIPTAKU   (Muhasabah untuk kita, yang pernah dekat dengan Tuhan…namun sekarang jauh, karna kesibukan dan urusan duniawi)   Pernah terbesit rasa hati ini ingin melangkah...
Kajian Lengkap Nisfu Sya’ban
*NISYFU SYA’BAN* _By: Mohammad Bahauddin_ Seperti yang telah kita ketahui bulan sya’ban terdapat banyak sekali cabang kebaikan yang diambil dari arti namanya dari kata asysya’b, maka sangat disayangkan jika kita...
Kitab Al Mauhabah Al Ladunniyyah Syarakh Ar Rohabiyah – Ilmu Waris
Sahabat Ali Bin Abi Thalib berkata: “Ilmu Waris adalah ilmu yang hilang pertama kali di dunia ini.” Permasalahan warisan adalah hal yang sering kali membuat putus tali persaudaraan. Rebutan warisan,...
10 Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti – nanti. bagi orang – orang mukmin, kepergian bulan Ramadhan jauh lebih disesalkan daripada kepulangan seorang tamu mulia yang berlalu pergi. Tak heran...


TINGGALKAN KOMENTAR

%d blogger menyukai ini: